Tuesday, 2 August 2011

Entrepreneur Leader, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D (Guru Besar FE UI)


Pemimpin yang hebat tumbuh bukan karena menegakkan peraturan yang keras, melainkan menebarkan pikiran dan semangat yang mengilhami pengikutnya. Seorang pemimpin haruslah memiliki visi yang jelas, gambaran-gambaran yang terang benderang mengenai kemana organisasi akan diarahkan. Namun, visi saja tidak cukup. Pemimpin yang unggul menciptakan visi, mengartikulasikan visi itu, dan dengan penuh semangat mendorong agar visi tersebut terwujud. Mewujudkan visi tentu saja membutuhkan keberanian, antusiasme, dan energy yang tak habis-habisnya. Mereka bekerja tidak setengah-setengah, tuntas dalam keseluruhan proses serta beragam dimensinya. Tidak mundur oleh hambatan maupun kesulitan. Hambatan dan kesulitan dijinakkan dengan kreativitas dan inovasi yang muncul dari diri mereka sejalan dengan proses pengalaman hidup yang mereka lalui. Sifat-sifat itulah yang menjadi pembeda dengan yang lainya. Sebagai contoh Konosuke Matshusita. Kisah hidupnya menggambarkan betapa dia bukanlah orang yang memiliki bakat luar biasa, dengan intelegensi diatas rata-rata, bahkan mungkin secara teknis ia tak mempunyai keahlian khusus yang benar-benar super. Akan tetapi ia telah membuktikan bahwa dirinya mampu meraih berbagai prestasi yang begitu spektakuler. Demikian juga dengan Martha Tilaar yang justru dicap sebagai ‘anak yng lemah’ dalam berfikir, Serta Mochtar Riady yang ingin menjadi Bankir, namun tidak mengerti ilmu akuntansi. Keinginan yang kuat dan kemampuan mereka dalam melibatkan orang lain untuk merealisasikan mimpinya telah mengantarkan mereka pada jalan kesuksesan. Pemimpin sebagaimana ditunjukkan oleh Ciputra-tidak seekedar berkutat pada pertanyanyaan “Bagaimana Caranya” melainkan bagaimanana menentukan dan menggapai tujuan. Singkatnya pemimpin tidak berurusan dengan “melakukan secara benar” tetapi “melakukan hal yang benar”. Mengenai hal ini Warren Bennis mengungkapkanya dengan sangat menarik, “Para manager mengatasi maslah, tetapi pemimpin menemukan masalah.” Seperti pada waktu Ciputra mengajukan proposal pembangunan Ancol kepada Gubernur DKI, sesungguhnya Ia telah menemukan sebuah masalah. Atau pada saat ia ia berkeinginanan mengembangkan daerah Lakar Santri di Surabaya Barat, ia pun sekali lagi menemukan masalah. Kemampuan membaca dan kemampuan melihat-untuk menemukan masalah sebelum orang lain melihatnya-dalam bahasa lain disebut dengan visi. Agus Marti Wardojo dan Emirsyah Satar mewakili figure yang selalu siap menerima tantangan unutk menerima perubahan dengan mengutamakan inovasi, keberanian mengambil resiko, dan semangat tinggi tanpa putus asa, dilandasi kejujuran. Kemampuan mereka menyelaraskan visinya di dalam organisasi membuat organisasi yang mereka pimpim mampu melakukan perubahan secara cepat. Lebih dari itu, visi yang diperjuangkan para pemimpin ini jauh melebihi batasan-batasan material semata. Kepuasan mereka adalah saat dapat menaklukkan tantangan dan hasilnya menjadi manfaat bagi orang banyak. Dengan demikian mereka telah meneempatkan visinya pada tingkatan yang sangat mulia.

Monday, 1 August 2011

BELAJAR DARI YANG SUKSES (Pak Mul_Pedagang Angkringan)

“Membangun sebuah usaha tidaklah semudah membalikkan tangan. Perlu tekad dan kemauan yang keras. Halangan dan rintangan pastilah ada, namun jadikan itu semua sebagai pemicu untuk menjadi suskes.” Kutipan tersebut merupakan sebagian dari isi dialog antara pengusaha angkringan se-yogya dengan Pak Mul, pengusaha angkringan yang sukses dengan  merk dagang warung “Hick Gaul” di kabupaten Karanganyar yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI) Yogyakarta.
Kegiatan study banding pengusaha angkringan yang juga diikuti Youth Enterpreneur Society (YES), forum mahasiswa wirausaha-mengambil lokasi di Karanganyar. Mahasiswa dan para pengusaha angkringan  itu mendengarkan kiat-kiat sukses menjadi pengusaha angkringan oleh Pak Mul. Dalam ceritanya Pak Mul berbagi kisah bagaimana dulu mengawali usaha angkringannya ini. Dimulai dari berdagang secara pindah-indah dan harus mendorong gerobak sejauh 2 km. Hingga harus menutup warungnya ketika hujan datang karena kondisi tenda gerobak yang bocor. Namun, itu semua tak membuat pak Mul patah arang, justru itu membuatnya bisa semakin bertahan dalam  mencari nafkah untuk anak istri.
Ketika roda kehidupan berputar, nasib mempertemukan Pak Mul dengan Ibu Dewi Setyowati, Pimpinan Bank Indonesia Wilayah Yogyakarta. Melihat ketekunan dan semangat berwirausaha dari pak Mul, Ibu dewi meyakinkan beliau untuk mengambil kredit di Bank guna mengembangkan usahanya. Dan terbukti, dengan  kredit awal Rp 400 juta, saat ini pak Mul mampu membangun usahanya. Rumah, mobil dan warung angkringan yang cukup luas pun akhirnya terbeli. Tak tanggung-tanggung pelanggan warung angkringan Pak mul ini adalah rakyat biasa hingga pejabat.
Ditemui secara terpisah, Yogi, Mahasiswa UII Yogyakarta yang juga anggota YES ini mengaku  kagum dengan semangat dan kerja keras dari pak Mul. Dari usaha angringannya ini beliau mampu  menyekolahkan anaknya hingga S-2. “Semoga saya bisa ketularan sukses seperti beliau”, tuturnya kepada swaka.
Dalam acara dialog ini, pak mul berbagi resep dan kiat-kiat untuk sukses menjadi pengusaha angkringan. Yang pertama adalah buat usaha kita beda dengan yang lain. Walaupun usaha angkringan, tapi buat yang beda dengan yang lain. Contohnya, menggunakan  merk teh yang berbeda dari yang lain. Ini akan membuat kekhasaan dari angkringan kita. Yang kedua adalah dalam  melayani pelanggan, usahakan jangan terlalu serius, tambahi dengan guyonan-guyonan agar para pelanggan betah dan nyaman makan di warung angkringan kita.
Dalam kaitannya dengan semangat enterpreneurship dikalangan mahasiswa, apa yang dilakukan oleh pak mul ini merupakan contoh  nyata bagaimana membangun usaha dari nol. Sebagai mahasisw a tentu kita tidak selamanya mengidam-idamkan pekerjaan yang nyaman dan bergaji besar, karena semua itu terbatas. Arief, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta turut mengamini apa yang dilihatnya dari Pak Mu l”Kalau ingin kaya ya jadi pedagang mas. Saya ingin sukses jadi pengusaha seperti Pak Mul” ungkapnya kepada swaka.
Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia, merupakan lahan yang sangat petensial untuk berwirausaha. Sebagai mahasiswa tentunya tidak selamanya kita bisa mengidam-idamkan  pekerjaan sebagai PNS dan sebagainya. Sebuah negara akan  maju  jika masyarakatnya banyak yang berwirausaha, seperti negara China. Sebagai generasi muda, tak mudah memikul tanggung jawab sebagai penerus pembangunan bangsa. Tapi ada hal kecil yang mampu kita lakukan dari lingkungan sekitar kita untuk membangun bangsa ini menjadi besar, salah satunya berwirausaha.
(Sumber : KR Jogja, 2 Agustus 2011)